OJK: Transformasi digital jadi game changer perbankan syariah

Otoritas Jasa Keuangan

Pandemi Covid-19 telah mengubah ekonomi, terutama dengan adanya pembatasan sosial, dan itu terjadi bukan hanya di Indonesia. Di mana terjadi peningkatan penjualan online. Sekaligus mengindikasikan terjadinya pergeseran pola transaksi dari face to face menjadi online.

Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Deden Firman Hendarsyah mengatakan, dengan terjadinya perubahan pola konsumen tersebut, lembaga keuangan, khususnya sektor jasa keuangan syariah, juga harus beradaptasi dengan kebiasaan baru.

“Tentunya bagi keuangan syariah, hal ini menjadi tantangan tersendiri,” kata dia dalam webinar, Jumat (19/3).

Untuk itu, perbankan syariah dituntut untuk mengakselerasi transformasi digital jasa keuangan syariah. Hal itu, diharapkan dapat meningkatkan pendalaman pasar keuangan syariah. Dengan adanya akselerasi digital nanti, tentunya bisa meningkatkan inklusi keuangan syariah yang masih rendah, yakni di bawah 7%.

“Ini perlu diakselerasi sebab transformasi digital bisa menjadi game changer perbankan syariah yang signifikan, karena bisa meningkatkan customer experience, dengan memberikan layanan yang lebih baik, efisien dan tentunya meningkatkan daya saing bank syariah,” papar dia.

OJK telah menuangkan kebijakan akselerasi transformasi digital (MPSJKI 2021-2025). Dalam kebijakan itu, OJK berupaya mendorong inovasi dan akselerasi transformasi digital keuangan syariah, mengembangkan pengaturan yang mendukung ekosistem sektor keuangan digital, meningkatkan kapasitas SDM keuangan syariah seiring dengan pertumbuhan industri digital, memperkuat peran riset untuk mendukung inovasi dan transformasi digital keuangan syariah, mengakselerasi pengawasan berbasis IT dan regtech oleh industri, serta melakukan business process reengineering untuk peningkatan kualitas perizinan, pengaturan dan pengawasan

Transformasi digital di bank syariah sendiri dapat dilakukan dengan berbagai model. Sangat tergantung dari visi top manajemen dalam mengembangkan digital di bank syariah.

Pertama disebut model internal. Pada model ini bank syariah berkolaborasi dengan induk. Dalam hal ini, bank syariah menggunakan layanan perbankan digital (LPD) yang dikembangkan oleh induk untuk disesuaikan dengan karakter nasabah bank syariah. Cara lain, bisa juga mengembangkan LPD sendiri. Di mana bank syariah mengembangkan sendiri layanan LPD-nya dengan sumber daya internal yang dipunyai.

Kedua disebut model eksternal. Model ini bisa mempergunakan outsourcing LPD ke vendor. Dalam hal ini, bank syariah sepenuhnya melakukan alih daya atas LPD ke nasabah. Strategi lainnya melakukan consortium development dengan bank syariah lain. Dalam hal ini, aliansi strategis dapat dilakukan untuk membentuk LPD dengan bank syariah lainnya. Sementara costumer on boarding dilakukan di bank syariah masing-masing.

Selanjut adalah model hybrid, dilakukan dengan joint development. Dalam hal ini, desain LPD dikelola oleh bank syariah dan pihak eksternal bertindak sebagai IT developer

“Pengembangan sinergi ekosistem ekonomi dan keuangan syariah tentunya harus didukung pula oleh pihak lain dengan semangat berjamaah. Kita semua berharap transformasi digital dapat menjadi pondasi untuk dorong ekonomi syariah secara kesluruhan

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply