Fungsi intermediasi perbankan syariah di kuartal I-2021 melambat

Bank Syariah

Perbankan syariah memiliki ketahanan modal yang terjaga selama kuartal I-2021, ditunjukkan oleh rasio CAR BUS sebesar 24,45%. Namun fungsi intermediasi perbankan syariah pada kuartal I-2021 mengalami perlambatan. Hal ini ditunjukkan oleh pertumbuhan pembiayaan yang disalurkan (PYD) dan dana pihak ketiga (DPK) masing-masing sebesar 0,50% (qtq) dan -0,67% (qtq), sehingga pertumbuhan aset perbankan syariah selama periode tersebut sebesar -0,59% (qtq).

“Likuiditas perbankan syariah juga memadai, yang ditunjukkan oleh rasio FDR yang terjaga pada kisaran 80-90%. Risiko kredit perbankan syariah terjaga di bawah threshold 5% pada triwulan I-2021 dengan rasio NPF Gross sebesar 3,15%,” kata OJK dalam laporan triwulan I-2021.

Aset 

Aset perbankan syariah menunjukkan pertumbuhan yang positif, meski mengalami perlambatan jika dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan aset perbankan syariah mengalami kontraksi (-0,59%, qtq), dengan pangsa aset mencapai 6,41% terhadap perbankan nasional, mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 6,51%.

BUS dan UUS masingmasing mengalami pertumbuhan aset yang melambat sebesar -0,98% (qtq) dan 0,17% (qtq). Dari total aset perbankan syariah, BUS, UUS, dan BPRS masing-masing memiliki porsi sebesar 64,95%, 32,58%, dan 2,47%. 

B. Sumber dana dan dana pihak ketiga (DPK) 

Dana pihak ketiga (DPK) merupakan sumber dana utama bagi perbankan syariah dengan kontribusi sebesar 86,25% dari total sumber dana perbankan syariah (selain modal), diikuti oleh komponen rupa-rupa liabilitas sebesar 8,82%, surat berharga yang diterbitkan sebesar 1,44% dan liabilitas kepada bank lain sebesar 1,37% sebagaimana tercatat dalam neraca keuangan perbankan syariah posisi triwulan I-2021.

Sumber dana perbankan syariah pada triwulan I-2021 tumbuh sebesar -0,67% (qtq) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,32% (qtq).

Sementara pertumbuhan DPK sangat dipengaruhi oleh deposito yang komposisinya merupakan mayoritas dibandingkan instrumen DPK lainnya. Deposito memiliki porsi sebesar 52,72%, diikuti tabungan yang memiliki porsi sebesar 33,52%, dan sisanya merupakan instrumen giro yang memiliki porsi sebesar 13,75%.

Dibandingkan triwulan sebelumnya, pertumbuhan deposito cukup terjaga. Pada periode triwulan I-2021, deposito tumbuh dengan laju sebesar 1,27% (qtq), atau secara tahunan tumbuh 10,06% (yoy). Tabungan mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar -2,10% (qtq), secara tahunan tumbuh 16,82% (yoy). Sementara giro menunjukkan percepatan sebesar 3,588% (yoy) namun melambat menjadi -4,26% (qtq). 

C. Pembiayaan yang disalurkan (PYD) 

Penyaluran pembiayaan bank syariah pada triwulan I-2021 tumbuh 6,52% (yoy), secara triwulanan tumbuh 0,50% (qtq), melambat dibandingkan posisi triwulan IV2020 yang tumbuh sebesar 2,59% (qtq). Pada periode laporan, pembiayaan modal kerja, investasi, dan konsumsi masing-masing menunjukkan pertumbuhan sebesar -3,24% (qtq) atau -0,07% (yoy), 0,67% (qtq) atau 0,48% (yoy), dan 2,83% (qtq) atau 14,28% (yoy).

Sementara pada triwulan sebelumnya, pembiayaan modal kerja, investasi, dan konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 0,33% (qtq), 2,06% (qtq), dan 4,37% (qtq). Berdasarkan porsinya, pembiayaan bank syariah masih didominasi untuk konsumsi sebesar 48,29% diikuti modal kerja dan investasi yang masing-masing sebesar 29,22% dan 22,50%.

Penyaluran pembiayaan BUS dan UUS berdasarkan sektor ekonomi, 51,55% PYD perbankan syariah
disalurkan pada sektor lapangan usaha (produktif) yang pada triwulan I-2021 mengalami pertumbuhan sebesar 0,22% (yoy). Pertumbuhan ini dikontribusikan oleh sektor konstruksi yang naik Rp3,60 triliun (yoy) dan
tumbuh sebesar 11,07% (yoy).

Sementara itu, sektor rumah tangga (nonproduktif) berkontribusi sebesar 46,54% pada pembiayaan BUS dan UUS. Sektor rumah tangga meningkat sebesar Rp4,77 triliun (qtq), tumbuh sebesar 2,73% (qtq) atau 15,39% (yoy). Pertumbuhan ini dikontribusikan oleh pembiayaan untuk pemilikan peralatan rumah tinggal lainnya (termasuk multiguna) yang meningkat Rp2,79 triliun (qtq) atau tumbuh sebesar 4,02% (qtq). Kontributor terbesar berikutnya adalah pembiayaan untuk Pemilikan Rumah Tinggal yang meningkat Rp1,70 triliun (qtq) atau tumbuh sebesar 1,89% (qtq).

Kualitas pembiayaan perbankan syariah cukup terjaga yang ditunjukkan oleh rasio NPF Gross BUS dan UUS
pada triwulan I-2021 di bawah threshold 5%, sebesar 3,15%. Secara spasial, sebagian besar pembiayaan
masih terpusat di wilayah Jawa sebesar 68,22%, khususnya DKI Jakarta (40,29%), Jawa Barat (10,62%),
Jawa Timur (7,89%), dan Jawa Tengah (5,09%). Sementara provinsi di luar Pulau Jawa yang masuk lima besar dalam hal penyaluran pembiayaan perbankan syariah adalah Nangroe Aceh Darussalam dengan
kontribusi sebesar 7,61%.

D. Rentabilitas 

Rentabilitas BUS dan UUS mulai mengalami kenaikan, tercermin dari rasio ROA pada triwulan I-2021 sebesar 2,18%, yang lebih tinggi jika dibandingkan triwulan I-2020 maupun triwulan IV-2020 yang masing-masing sebesar 2,02% dan 1,54%. Hal tersebut menunjukkan proses pemulihan bisnis dari adanya efek pandemi yang berdampak pada sektor riil.

Di sisi lain, rentabilitas BPRS masih terlihat mengalami penurunan yang terlihat dari rasio ROA pada triwulan I-2021 sebesar 1,81%, relatif lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I-2020 dan triwulan IV-2020 yang masih berada pada kisaran masing-masing 2,73% dan 2,01%.

Kondisi ini diakibatkan dari tekanan terhadap sektor riil yang mempengaruhi permintaan masyarakat akan pembiayaan. Dalam konteks bisnis bank, hal tersebut akan menurunkan permintaan pembiayaan dan juga akhirnya rentabilitas

E. Likuiditas 

Likuiditas perbankan syariah masih memadai. Hal ini ditunjukkan oleh rasio FDR perbankan syariah yang selalu terjaga dalam batasan yang terkontrol. Pada triwulan I-2021, FDR perbankan syariah sebesar 83,34% naik 94 bps (qtq) dibandingkan triwulan IV-2020 yang sebesar 82,40% sedangkan secara tahunan mengalami penurunan sebesar 392 bps (yoy) dari triwulan I-2020 yang sebesar 87,26%.

Peningkatan FDR selama triwulan I-2021 didorong oleh kenaikan FDR BUS sebesar 145 bps (qtq) menjadi sebesar 77,81% sedangkan FDR UUS mengalami penurunan sebesar 40 bps (qtq) menjadi sebesar 95,61%. FDR BPRS mengalami kenaikan dari triwulan IV-2020 yang sebesar 108,78% menjadi sebesar 111,34% pada triwulan I-2021.

Selain dilihat dari rasio FDR, indikator likuiditas harian BUS juga dilihat dari rasio Aset Likuid (AL) terhadap
Non-Core Deposit (AL/NCD) dan rasio AL terhadap DPK (AL/DPK) yang juga menunjukkan likuiditas bank syariah
masih memadai. Rata-rata harian rasio AL/NCD selama triwulan I-2021 sebesar 147,32%, meningkat dibandingkan
pada triwulan IV-2020 sebesar 131,52%.

Hal yang sama juga terjadi pada rata-rata harian rasio AL/DPK yang pada triwulan I-2021 sebesar 29,65%, meningkat dibandingkan triwulan IV-2020 yang sebesar 26,72%. Secara umum, kondisi likuiditas yang ditunjukkan dengan data AL/NCD dan AL/DPK tersebut masih berada di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.

F. Permodalan 

Pada triwulan I-2021, CAR BUS mengalami peningkatan dari posisi triwulan sebelumnya 21,64% menjadi 24,45%. Di lain pihak, rasio CAR pada BPRS mengalami penurunan, dari 28,60% pada triwulan IV-2020 menjadi 24,02% pada triwulan I-2021

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses