Zakat harus transparan agar dapat membangun rasa kepercayaan masyarakat

Pengamat Keuangan Syariah dari IPB Irfan Syauhaqi Beik. Foto ipb.ac.id

Akad memiliki peran penting dalam menunjang kehidupan umat Islam di seluruh dunia. Tidak hanya sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi antarumat Islam dan cara bersyukur kepada Allah SWT. Sehingga pengelolaan zakat yang akurat dalam pengumpulan dan pendistribusiannya menjadi sangat krusial. World Zakat Forum (WZF) bekerja sama dengan Baznas Institut menemukan alat untuk mengukur lembaga zakat secara umum dengan istilah World Zakat Performance Index.

Dosen IPB University dari Departemen Ekonomi Islam yang juga menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Forum Zakat Dunia Irfan Syauqi Beik mengatakan, bahwa World Zakat Performance Index berguna sebagai standar untuk mengukur tingkat pengelolaan lembaga zakat. Alat ini juga membantu dalam mengidentifikasi kekurangan dan memperbaiki area yang perlu dikembangkan. Tahun ini untuk pertama kalinya World Forum Index akan menampilkan World Zakat Performance dalam pengelolaan zakat global.

“Zakat harus transparan sehingga dapat membangun rasa kepercayaan masyarakat. Kami membutuhkan informasi yang dapat diakses dan digunakan secara publik untuk menganalisis dan menyeimbangkan kinerja lembaga zakat. Sehingga masyarakat dapat mengetahui apa yang dilakukan oleh lembaga zakat dan berdasarkan apa lembaga zakat yang diukur karena jika dilihat secara global, tidak ada indeks sebagai standar pengukuran,” kata dia di Public Expose: World Zakat Performance Index yang diselenggarakan oleh World Zakat Forum, (22/6).

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa indeks juga penting untuk meningkatkan potensi zakat. “Saat ini masih terdapat gap antara potensi dan jumlah yang terkumpul. Dengan indeks ini, kita dapat menggali kerangka teoritis mengenai pengelolaan kinerja zakat, menentukan indikator yang relevan untuk mengevaluasi kinerja anggota WZF, dan menyediakan alat ukur yang kuat untuk zakat. kinerja manajemen dari masing-masing lembaga zakat di dunia,” jelas mantan Ketua Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam (CIBEST) IPB University ini.

Ia mengatakan, indeks kinerja zakat dibentuk berdasarkan studi 2016 di Malaysia mengenai kinerja zakat berdasarkan empat dimensi. Dimensi ini adalah input, proses, output, dan hasil dengan masing-masing memiliki variabel sendiri yang mencerminkan dimensi ini. Selain itu, acuan yang digunakan adalah Indeks Zakat Nasional 2017 dari Baznas yang digunakan untuk menganalisis kinerja zakat berdasarkan perspektif mikro dan makro.

“Perspektif makro terkait dengan peraturan pemerintah sedangkan perspektif mikro terkait dengan kegiatan inti lembaga zakat,” tambahnya seperti dilansir dari ipb.ac.id. Ia juga menyebutkan bahwa penerapan Baznas Shariah Compliant Index pada 2020 juga penting untuk mengukur tingkat kepatuhan pengelolaan zakat sesuai prinsip syariah.

“Dalam metodologi World Zakat Performance Index (WZPI), kami menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Selanjutnya, kita akan membangun indeks sebagai indeks berbobot multi-tahap. Artinya seluruh komponen WZPI dapat dijadikan sebagai indeks tersendiri yang merupakan gabungan dari semua indeks,” jelas Pakar Ekonomi Islam IPB University ini.

Dijelaskannya, dimensi dan variabel WZPI terdiri dari landasan hukum, pengawasan zakat, pembayaran zakat, pengumpulan zakat, dan pelaporan zakat. Penilaian didasarkan pada lima skala nilai. “Beberapa variabel hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak, jadi hanya ada dua skala. Ketersediaan informasi dan dokumen untuk setiap variabel akan menentukan nilai setiap variabel. Penilaian akan dirangkum dalam dimensi pelaporan zakat tahunan,” jelasnya.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply