Menperin: Negara penduduk minoritas muslim juga berminat kembangkan industri halal

Produk Halal

Pasar produk halal global terus menunjukkan peningkatan, dan tentu semua harus sama yakin, bahwa peningkatan ini bukan hanya sementara. Dalam laporan State of the Global Islamic Economy Report 2020-2021, total spending produk dan jasa halal pada 2019 senilai US$2,02 triliun yang diperkirakan naik menjadi US$2,4 triliun pada 2024.
Di 2019 spending makanan senilai US$1,17 triliun, modest fashion senilai US$277 miliar, dan farmasi kosmetik senilai US$165 miliar.

“Besaran ukuran industri halal tersebut harusnya membuat kita tergiur. Harusnya menjadi pemicu dan pemacu kita, dan bagi pelaku industri di seluruh dunia. Bukan hanya negara muslim tetapi juga nonmuslim,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasimita pada diskusi daring yang membahas “Solusi Mengurus Perizinan Ekspor, Legalitas, Sertifikasi dan Standardisasi UMKM Halal (global halal hub)” 2021 di kanal GeTI TV.

Dia menambahkan, sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar dunia, Indonesia semestinya bisa meraup keuntungan paling besar dari pasar industri halal global.

“Makanya kita harus bisa sama-sama menghitung kaitannya dengan patokan target, kaitannya dengan timeline, agar supaya Indonesia bisa menjadi pemain nomor satu dunia di industri halal,” kata dia.

Tetapi faktanya, Indonesia secara keseluruhan masih di peringkat 4, di bawah Malaysia, Arab Saudi n UEA. Bahkan pada beberapa indikator, Indonesia masih kalah dengan beberapa negara minoritas muslim. Misalkan saja pada sektor halal food dan farmasi kosmetik, Indonesia kalah dari Singapura. Selain itu, peringkat global halal eksportir terbesar dunia diduduki india, Amerika Serikat, dan Brazil. Bahkan beberapa negara minoritas muslim seperti Inggris, Nigeria dan Italia menunjukan performance yang baik dan signifikan dalam industri halal.

Hal ini menunjukan bahwa kompetisi dalam memperebutkan industri halal sangat sengit. Bukan hanya diminati oleh negara mayoritas penduduk muslim, tetapi juga minoritas penduduk muslim.

Meski begitu, peringkat Indonesia di beberapa sektor telah menunjukan progress yang baik. Misalnya di sektor halal food, Indonesia naik delapan peringkat. Hal ini sebagai dampak dari naiknya ekspor ke negara OKI. Bahkan Indonesia naik 19 peringkat di sektor farmasi dan kosmetik.

“Dengan populasi muslim yang besar, Indonesia punya potensi yang tidak dimiliki negara lain untuk merajai pasar halal,” tutur dia.

Saat ini, Indonesia merupakan pasar terbesar nomor satu terbesar dunia untuk produk makanan dengan nilai US$144 miliar dolar, dan pasar terbesar kedua adalah India. Untuk produk kosmetik halal, pasar terbesar kedua di tempati India juga dengan nilai US$4 miliar dolar. Selain itu, Indonesia juga pasar terbesar kelima pakaian muslim dunia dengan nilai US$16 miliar.

“Ini pasar besar sekali yang merupakan peluang bagi pelaku industri dan bagi produsen produk halal. Bukan hanya kebutuhan domestik tetapi juga mancanegara. Makanya IKM harus berperan aktif dan bukan hanya menjadi penggembira di tengah serbuan produk muslim dari berbagai negara,” papar dia.

Untuk mendorong penguatan IKM tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan untuk meningkatkan daya saing bagi pelaku IKM. Di antaranya yaitu, kemudahan dalam hal legalitas, sertifikasi dan standardisasi untuk pelaku usaha.

Saat ini, pelaku usaha mikro dan kecil yang melakukan kegiatan usaha dengan tingkat risiko rendah, NIB yang dimiliki juga akan berlaku sebagai izin usaha dan sertifikat produk halal. Kemudahan ini diharapkan mempermudah IKM memiliki perizinan usaha sehingga bisa membuka akses pasar yang lebih luas dan juga bisa mendapatkan fasilitas seperti bimbingan teknis, pelatihan, dan sertifikasi.

Dalam hal sertifikasi produk, Kementerian Perindustrian memberikan fasilitas kepada IKM, di antaranya berupa sertifikasi good manufacturing produk, SNI, sertifikat halal serta penyelia halal, dan kemasan atas HKI melalui klinik kemasan dan klinik HKI.

Upaya meningkatkan ekspor produk IKM juga mengikutsertakan pelaku IKM dalam pameran, khususnya skala internasional. Juga melakukan upaya masuk ke ecommerce global yang disertai pendampingan hingga pelaku IKM dapat mengakses pasar ekspor dengan lebih optimal.

“Pendampingan yang insentif tersebut telah menunjukan hasilnya dengan beberapa pelaku IKM dapat buyer dan ekspor ke luar negeri. Dalam rangka meningkatkan ekspor, tentunya sinergisitas dan kolaborasi harus terus dilakukan. Baik dari kementerian lain, perbankan, dan pelaku usaha dalam aspek pemasaran, produktivitas pembiayaan dan logistik.

 

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dalam rangka mempercepat proses kemandirian dan meningkatkan kuantitas berita yang ditayangkan di portal kesayangan Anda ini, kami mengharapkan kesedian Anda untuk berdonasi melalui:

Bank Syariah Indonesia (dahulu Bank Syariah Mandiri): (451) 703 908 1002

Terima kasih atas perhatiannya, sekecil apapun perhatian Anda, pasti kami hargai. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply