Halal Science Center IPB University gelar pelatihan sertifikasi halal

Sertifikat Halal

Permintaan pasar terhadap produk halal semakin meningkat tiap tahunnya. Dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia memiliki potensi yang besar bagi industri halal. Namun, tidak semua bisnis terutama sektor pangan telah tersertifikasi halal.

Halal Science Center-Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (HSC-LPPM) IPB University mengadakan pelatihan eksternal sistem jaminan halal bagi pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), (14-15/8). Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Dosen Mengabdi IPB University.

Kepala Halal Science Center IPB University Khaswar Syamsu, dalam sambutannya menyebutkan, karena keterbatasan sumber daya, hanya dua UMKM di Bogor yang mendapatkan pendampingan hingga memperoleh sertifikasi halal. Namun, dalam memberikan penyuluhan terkait pentingnya sertifikasi halal, ada 39 UMKM lainnya yang didampingi.  

Menurutnya, bagi perusahaan yang memiliki sumber daya manusia yang memadai, tentu sertifikasi halal bukanlah masalah. Namun bagi UMKM yang memiliki keterbatasan, tentu hal ini akan menimbulkan masalah tersendiri dalam melakukan sertifikasi halal. Seperti yang telah diamanatkan oleh UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

“Karena itu diperlukan penyuluhan, bimbingan dan pendampingan bagi UMKM untuk sertifikasi halal. Pusat Kajian Halal IPB University hadir memberikan penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan bagi UMKM dalam Program Dosen Mengabdi,” ungkap Pakar Rekayasa Bioproses IPB University ini, seperti dilansir dari ipb.ac.id.

Dalam pelatihan tersebut, dosen IPB University di Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) ini menyampaikan materi terkait definisi, regulasi, dan prosedur sertifikasi halal. Ia menyebutkan bila UMKM Indonesia mampu memproduksi produk yang berkualitas dan halal, maka potensinya untuk mendongkrak perekonomian negara menjadi lebih besar.

Namun, menurut Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB University ini, walaupun Indonesia merupakan konsumen produk halal terbesar di dunia, dari sisi produsen masih jauh tertinggal. Nantinya, UMKM dharapkan menjadi tulang punggung negara dan merajai dunia, minimal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan tidak perlu impor produk halal.

Sedangkan Wakil Kepala LPPM bidang Pengabdian kepada Masyarakat Sofyan Sjaf menyampaikan, bahwa catatan penting bagi UMKM adalah kontribusi positifnya bagi PDB (Produk Domestik Bruto) negara. Tumbuhnya UMKM juga dapat dijadikan sebagai salah satu solusi untuk menuntaskan kemiskinan dan pengangguran.

“Rata-rata desa kecil memiliki setidaknya lima UMKM, namun tidak mendapatkan pemberdayaan yang maksimal bagi UMKM yang potensial. Posisi tersebut dinilai strategis bila dikaitkan dengan isu halal. Kegiatan ini dapat menopang potensi pasar halal terutama UMKM yang berada di pedesaan, ” ungkap dosen IPB University dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM)-Fakultas Ekologi Manusia (Fema) ini.

“Untuk itulah Program Dosen Mengabdi IPB University ini hadir untuk merespons, memberdayakan, serta mengoptimalkan peran-peran UMKM,” terangnya.

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply