Ahli ekonomi syariah UI minta kurikulum ekonomi Islam adaptasi kebijakan Kampus Merdeka

Logo ekonomi syariah

Ahli ekonomi syariah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mustafa Edwin Nasution, mengusulkan agar kurikulum ekonomi Islam yang diajarkan di sejumlah perguruan tinggi, dapat melakukan adaptasi kebijakan Kampus Merdeka yang dicanangkan pemerintah.

“Jadi masalahnya sekarang, apakah kurikulum ekonomi Islam yang diajarkan, sudah cocok dengan apa yang dibutuhkan? Terlebih dengan situasi perkembangan yang ada. Lebih-lebih sekarang ada istilah Kampus Merdeka. Di mana mahasiswa diizinkan kuliah tiga semester di luar kampus,” kata dia dalam webinar, Rabu (20/9)

Makanya, dia mengusulkan agar perguruan tinggi yang memiliki program studi ekonomi Islam menyesuaikan kurikulum, agar bisa mengakomodir perkembangan yang ada. Apalagi perubahan dan kebutuhan sumber daya insani untuk ekonomi dan keuangan syariah sangat cepat. Jangan sampai kurikulum yang sekarang dipergunakan terlambat atau tidak dapat mengikuti perkembangan di luar atau industri.

Di dunia sendiri, teori ekonomi Islam ada yang mengadaptasikan dari Alquran dan hadis. Ada juga yang mengikuti teori supply dan demand yang kemudian menyesuaikan dengan ruh ekonomi Islam.

“Kurikulum ekonomi Islam saat ini ada berbagai pendekatan. Ada yang berdasarkan Alquran dan hadis langsung. Ada juga yang mengikuti konvensional,” terang dia.

Jika berlandaskan pada konvensional, maka yang dipelajari sejak awal adalah mengenai teori permintaan dan penawaran yang kemudian menghasilkan sebuah keseimbangan, baik itu dalam skala mikro maupun makro. Dasar itu akan terus dipergunakan mulai dari jenjang sarjana hingga S3.

Sementara dasar ekonomi Islam dari Alquran ada di surah  Al-Baqarah ayat (2) dan (3) yang mengatakan:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.    

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka”.

“Ini suatu sinyal pentingnya infaq dalam kegiatan ekonomi. Kalau ini tidak dimasukkan dalam kurikulum, maka kita akan kehilangan ruh ekonomi Islam,” ucap dia.

Untuk diketahui, saat ini, sudah ada 275 program studi yang menyelenggarakan pendidikan ekonomi Islam. Sedangkan di perguruan tinggi agama sekitar 800. Hal ini menunjukkan perkembangan pengajaran ekonomi Islam yang sangat pesat dan luar biasa.

“Padahal pada awal 2000-an baru dua universitas negeri yang menyelenggarakan ekonomi Islam, yaitu UI dan Airlangga,” terang dia. 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses