Menparekraf: Narasi pariwisata halal cenderung timbulkan salah persepsi

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memutuskan, untuk mengubah narasi pariwisata halal menjadi pariwisata ramah muslim. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah kesalahpahaman pelaku usaha pariwisata di sejumlah daerah.

Menparekraf Sandiaga S Uno mengatakan, narasi pariwisata halal cenderung menimbulkan salah persepsi. Padahal sebenarnya dalam pariwisata jenis ini hanya menambah pelayanannya saja.

Pengembangan wisata ramah muslim maksudnya bagaimana extension of service atau peningkatan dan perluasan layanan. Maksudnya menambah layanan produk halal, sehingga ketika wisatawan melakukan tadabur alam, juga bisa beribadah. Makanya perlu menyediakan tempat ibadah, sekaligus menata ulang narasi agar pariwisata di Indonesia lebih berkualitas.

“Misalnya di kamar hotel ditambah penunjuk salat, menyediakan sajadah. Hingga ketersediaan toilet agar wisatawan mudah membersihkan diri, serta menyediakan opsi halal di sejumlah restoran. Ini yang kita fokuskan yaitu, kenyamanan dan keamanan wisatawan,” tuturnya seperti dikutip dari Youtube Kemenparekraf.

Makanya Kemenparekraf merasa perlu merubah narasi untuk mendorong wisata ramah muslim ini. Apalagi sebenarnya Indonesia sangat kaya wisata religi. Bahkan sejumlah daerah seperti Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, DKI Jakarta dan Lombok telah mendapatkan berbagai penghargaan wisata ramah muslim dari lembaga internasional dan belum tereksplorasi dengan maksimal.

“Pandemi Covid-19 ini memberikan kesempatan untuk meluruskan persepsi bahwa pariwisata halal adalah extension of service atau peningkatan dan perluasan layanan,” tutur dia.

Sementara Habib Husein Ja’far mengatakan, wisata bukan hanya lahir tetapi juga batin.

“Jangan sampai sibuk wisata sehingga menyebabkan ibadahnya tertinggal. Padahal kita butuh juga kepuasan batin saat berwisata. Makanya perlu ada infrastruktur untuk ibadah,” tutur dia.

Di sisi lain, potensi Jepang melihat wisatawan muslim besar. Selain Timur Tengah adalah Indonesia. Jika negara lain melihat, seharusnya Indonesia bisa melihat ini sehingga dapat menjadi kiblat wisata ramah muslim dunia.

“Wisatawan muslim harus difasilitasi. kalau tidak digarap berarti memubazirkan potensi yang ada,” ucap dia.

 

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses