BSI dan industri asuransi syariah siap kolaborasi

Logo ekonomi syariah

Rabu Hijrah sebagai bagian utama dari Gen-Sy (Generasi Syariah), menggandeng MES (Masyarakat Ekonomi Syariah), IIS (Islamic Insurance Society), AASI (Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia) dan para pelaku Industri Asuransi Syariah Nasional, mempersembahkan Webinar dengan tema : “Revolusi Industri Asuransi Syariah Pasca-Merger BSI” Rabu (16/6) malam.

Webinar ini dihadiri oleh sejumlah tokoh yang ahli mewakili dalam bidang asuransi syariah dan juga tokoh muda Indonesia seperti Suhendar Group Head CTO (Change Management and Transformation Office-Bank Syariah Indonesia), Tatang Nurhidayat Ketua AASI (Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia), Arief Rosyid Hasan (Ketua Komite Pemuda-PP MES), M Zamachsari (Ketua IIS-Islamic Insurance Society).

Serta dihadiri panelis Reza Ronaldo (Direktur Operasional-Jasindo Syariah), Panut Suranto (Kepala Divisi Reasuransi Umum-ReINDO Syariah), Agung Jatmika Nurahsid (Kepala Divisi Syariah-BNI Life Insurance), Wahyudin Rahman (Sharia Group Head-Asei Syariah/Youth Islamic Insurance) serta forum webinar dimoderatori oleh Abdul Azzam Lathif (Presidium Nasional FoSSEI).

Phirman Rezha Chairman Rabu Hijrah dalam opening speech nya menyampaikan, Rabu Hijrah terus mendorong isu pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

“Kami berharap disetiap gerakan dan dorongan isu yang kami lakukan, semoga forum ini bisa melahirkan sebuah ide, rekomendasi atau terobosan baru dan menjadi diskusi dipemangku kebijakan seperti Menteri BUMN, Pemerintah dan di masyarakat ekonomi syariah sehingga perlu dikuatkan dan berkolaborasi serta didorong dengan masih,” ujar Phirman yang juga merupakan staf ahli Menteri Perdagangan RI.

Arief Rosyid Hasan menambahkan, anak muda itu senang dengan sebuah perubahan secara cepat dan menyangkut hal-hal yang fundamental. Sehingga ini yang diharapkan dalam pengembangan ekonomi syariah sekarang ini.

“Setelah pemuda melakukan dorongan untuk melakukan perubahan, maka harus dibarengi dengan geliat ekonomi syariah agar semakin masif di masyarakat. Mergernya bank syariah perlu kita sebagai umat islam dan bangsa harus tumbuh bersama dengan gerakan ini dan menjadi implikasi peningkatan lembaga yang terkait dalam mendongkrak literasi dan diskusi ekonomi syariah, maka harus kita berkolaborasi terus menerus,” kata Arief yang merupakan Komisaris Independen BSI, dalam keterangan tertulisnya.

Suhendar menuturkan BSI sesuai visinya ingin menjadi top 10 Bank Syariah global berdasar kapitalisasi pasar dalam lima tahun kedepan.

“Untuk mewujudkan visi misinya, kami memiliki lima strategi dalam mencapai tujuan tersebut, terutama kita ingin bank syariah menjadi setiap individu muslim semakin baik, dengan Indonesia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia, serta 44% nya memiliki preferensi syariah yang baik, maka kami berharap semakin besar ke depannya,’’ ujar Suhendar.

Sedangkan Tatang Nurhidayat menyampaikan, BSI harus bertransformasi menjadi bank Central Islam Indonesia.

“Dengan revolusi ala anak muda, harapan kita semua adalah BSI dan asuransi syariah bertransformasi dengan cepat. Ada dua hal yang dilakukan, yaitu penguatan kelembagaan serta membuat BUMN asuransi syariah yang besar “ pungkas Mas Tatang.

Sementara Zamachsari juga bersepakat harus menguatkan literasi asuransi syariah yang belum begitu baik di mata milenial saat ini.

Beyond insurance harus diupayakan sehingga bukan hanya semangat BSI, tetapi asuransi syariah juga harus bertransformasi cepat guna menjadi pilihan anak muda kedepan,” papar beliau.

Sedangkan Reza Ronaldo menegaskan, sebagai panelis perlunya melakukan pengembangan ekonomi yang menguntungkan dan menggunakan komponen syariah sehingga umat bisa percaya dengan kita.

“Sebagai pelaku bisnis kita harus untung dan sukses dalam berekonomi dan berindustri aga bisa memberikan contoh dan memberikan teladan bahwa berbisnis didunia syariah itu sangat baik,” pungkasnya.

Agung Jatmika Nurahsid menuturkan, revolusi industri pascamarger BSI, memberikan kita kekuatan bahwa revolusi harus mampu merubah mindset dan teknologi di industri syariah sekarang ini.

“Pertama meningkatkan teknologi, yang kedua perbaikan SDM yang bisa mempercepat revolusi dan struktur permodalan. Yang ketiga dan utama adalah struktur permodalan harus dimanagemen untuk dilakukan penguatan di bisnis dan pelayanan,” pungkas Agung.

Sementara Wahyudin Rahman menyampaikan, kehadiran BSI menjadi secerca harapan bagi industri asuransi syariah karena mayoritas sumber bisnis berasal dari perbankan syariah khususnya BSI. Perluasan pasar menciptakan potensi baru kontribusi dan diharapkan kehadiran Lembaga baru untuk mendukung BSI.

Selain itu peran pentingnya literasi dan inklusi serta peran pemuda menjadi sangat penting untuk mengubah wajah industri asuransi 3-4 tahun kedepan,”ujar Rahman.

Panut Suranto menambahkan BSI dan asuransi syariah punya peluang untuk berkembang pesat.

“Untuk kepentingan bisnis, BSI harus mempercepat pertumbuhan perusahaan, menurunkan biaya operasional, menaikkan aset perusahaan , serta meningkatkan kemampuan manajemen dan teknologi, kunci revolusi adalah semakin banyaknya customers baru, sementara untuk asuransi perlu berbenah persoalan menaikkan kapasitas asuransi, keragaman resiko bertambah, coverage risiko makin luas, serta semakin responsive dan cepat dalam marketing, UW, klaim, admin dan keuangan sehingga perubahan asuransi syariah dapat memenuhi kebutuhan customers,” tutup Pak Suranto.

Webinar ini ditutup dengan kesepakatan dan kesamaan persepsi untuk bisa berkolaborasi dan terus menggaungkan pengembangan ekonomi syariah di semua lini dan sektor agar menjadi sebuah Gerakan yang bisa diminati masyarakat sebagai unggulan dalam kehidupan bermasyarakat.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply